Ia terlahir dari keluarga yg sederhana, di sebuah desa terpencil yg terletak di jawa tengah. Entah apa sebabnya ia tidak pernah mengenal sosok figur seorang ayah hingga ia dewasa. Tidak mudah baginya untuk menjalani hidup ini, dari kecil hidup terpisah dengan ibunya yg bekerja untuk menghidupi kedua anaknya. Hidup di antara keluarga besarnya yg kurang memberikan kasih sayang terhadapnya hingga ia harus belajar menerima keadaan yg semestinya tidak ia terima. Kemandiriannya membuat ia dewasa lebih awal, di usianya saat itu seharusnya ia menikmati masa-masa bermain dengan temannya. Tapi tidak bagi dia, hidup bersama saudaranya (read ; bibi & paman) bukan berarti dia bebas melakukan apapun. Di usia sekolah dasar, ia harus bantu-bantu setelah pulang sekolah, sementara anak bibinya bebas bermain. Menimba air untuk keperluan rumah, membantu ke ladang untuk sekedar mendapatkan jatah makan, dan hal-hal lain demi menghindari cacian dan makian dari mereka. Hati kecil merasa iri dengan anak seusianya yg asik bermain di pekarangan samping rumah, tapi apa daya ia tidak memiliki keberanian untuk bermain.
Di usia 10 tahun, setiap cacian dan makian yg ia terima tak membuatnya meneteskan air mata di depan mereka. ia menahan sekuat tenaga untuk tidak menangis meskipun hatinya sakit, ia memiliki tempat sendiri untuk menumpahkan rasa itu. yahh..sebuah jembatan kecil di tengah hamparan sawah adalah tempatnya menumpahkan rasa sakit itu. Teriak, menangis dan bicara sendiri menyesali keadaan yg ia terima. Ia merasa apapun yg di lakukannya selalu salah, dan tak ada satupun orang yg membelanya. Tragis, di usia belia ia harus menggung tekanan demi tekanan dari keluarganya.
Lulus SD ia tidak melanjutkan sekolah, berangkat ke Ibu kota untuk mencari pekerjaan bersama temannya. Terdamparlah di saudaranya yg seorang kontraktor, berniat ikut kerja meskipun sbg kuli bangunan dengan gaji saat itu (th 1996) Rp 3.500/hari. Singkat cerita ia tinggal bersama saudaranya itu, namun cacian tetap ia dapatkan. Sampai pada puncaknya di malam tahun baru 1997 ia merasa sudah cukup tersiksa dengan perlakuan saudaranya, ia memutuskan pergi dan tidak bekerja lagi. Kembali ke kampung halaman dengan harapan untuk melanjutkan sekolah menengah atas dengan bekal pas-pasan.
Menginjak SMA, ia memilih keluar dari rumah itu dan memutuskan memperdalam agama di sebuah pondok pesantren. Ketenangan jiwa ia dapatkan, ilmu agama ia raih meski tidak seberapa. Paling tidak untuk bekal hidup di masa yg akan datang. Sambil sekolah ia jalani hari demi hari di pesantren itu, dengan bekal pas-pasan ia tetap berusaha bertahan meski hanya makan dengan nasi putih, kerupuk dan saus setiap harinya. Hanya hari selasa ia dapat menikmati nasi dan sayur ludeh pemberian dari pengurus pesantren itu. Akhirnya keberuntungan ia raih, semasa kelas 2 & 3 SMA ia mendapat beasiswa. Setidaknya itu membantu mengurangi bebannya sehari-hari. Sampai ia lulus masih mendapat beasiswa di salah satu perguruan tinggi, namun ia memilih untuk hijrah ke kota besar dengan membawa sejuta harapan untuk meraih mimpi-mimpinya.
Setibanya di kota tujuan, kehidupan baru mulai ia jalani dengan lingkungan dan orang-orang baru. Lika-liku perjuangannya tidak semudah yg ia bayangkan, keluar masuk kerja demi melanjutkan kuliah. Dengan menjadi pengamen, sales sebuah produk sampai menjadi kernet sebuah bus pernah dirasakannya. Tapi keadaan tetap membuatnya tak bisa melanjutkan kuliah, banyak pertimbangan yg harus ia fikirkan dan memutuskan menunda/tidak melanjutkan kuliah. Sampai pada akhirnya satu ketika dia berjumpa dengan seorang gadis dari keluarga berada, keduanya saling jatuh hati dan mengikrarkan sebuah hubungan yg serius. namun keberuntungan tetap tidak menaunginya, keluarga si gadis menolak dengan berbagai alasan. Tapi keduanya tidak menyerah begitu saja, meski usia hubungannya tahun 2011 ini sudah menginjak tahun ke 8. Harapannya masih besar untuk dapat mewujudkan impian-impiannya salah satunya dengan si gadis.
Cerita ini terinspirasi dari pengakuan seorang sahabat yg tidak ingin di sebutkan namanya, jika ada kesamaan cerita itu tidak ada unsur kesengajaan..
Semoga dari perjalanannya memberikan inspirasi bagi kita, untuk tetap bersyukur dengan keadaan yg kita terima. Karena dalam masa kesusahan, yakinlah bahwa itu akan indah pada akhirnya…amin




