IBSN : Tentang na’yu (Berita Kematian)

Posted on May 3rd, 2009 in Blog, IBSN, Religi

Berawal dari sebuah pemahaman ttg na’yu,akhirnya saya  coba cari kebenaran dari org yg lebih memahami akan masalah ini  sama seorang teman dekat yang lama-lama serasa jadi sodara, aku jadi ikutan nulis ngopas ini dg harapan bisa ikut dalam menyebarkan ilmu ttg masalah na’yu.

Ini tentang berita kematian. Horor… gak juga. Ini bicara soal kedudukan hukumnya.

Ini yang dari Sunan Tirmidzi

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِىُّ حَدَّثَنَا حَكَّامُ بْنُ سَلْمٍ وَهَارُونُ بْنُ الْمُغِيرَةِ عَنْ عَنْبَسَةَ عَنْ أَبِى حَمْزَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِيَّاكُمْ وَالنَّعْىَ فَإِنَّ النَّعْىَ مِنْ عَمَلِ الْجَاهِلِيَّةِ ». قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَالنَّعْىُ أَذَانٌ بِالْمَيِّتِ. وَفِى الْبَابِ عَنْ حُذَيْفَةَ

…Hindarilah na’yu, karena sesungguhnya na’yu termasuk perbuatan jahiliyyah. (Na’yu adalah berita duka (pemberitaan kematian)….

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ الْعَدَنِىُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِىِّ عَنْ أَبِى حَمْزَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ نَحْوَهُ وَلَمْ يَرْفَعْهُ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ وَالنَّعْىُ أَذَانٌ بِالْمَيِّتِ.

قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا أَصَحُّ مِنْ حَدِيثِ عَنْبَسَةَ عَنْ أَبِى حَمْزَةَ. وَأَبُو حَمْزَةَ هُوَ مَيْمُونٌ الأَعْوَرُ وَلَيْسَ هُوَ بِالْقَوِىِّ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ. قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَبْدِ اللَّهِ حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ. وَقَدْ كَرِهَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ النَّعْىَ وَالنَّعْىُ عِنْدَهُمْ أَنْ يُنَادَى فِى النَّاسِ أَنَّ فُلاَنًا مَاتَ لِيَشْهَدُوا جَنَازَتَهُ. وَقَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ لاَ بَأْسَ أَنْ يُعْلِمَ أَهْلَ قَرَابَتِهِ وَإِخْوَانَهُ. وَرُوِىَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ أَنَّهُ قَالَ لاَ بَأْسَ بِأَنْ يُعْلِمَ الرَّجُلُ قَرَابَتَهُ

…..sebagian ahli ilmu tidak menyukai na’yu. Dan na’yu menurut pendapat mereka adalah menyerukan (kabar) kepada orang banyak bahwa si fulan sudah meninggal supaya mereka menyaksikan jenazahnya (melayat). Sebagian ahli ilmu mengatakan tidak apa-apa kalau memberitahukan kepada kerabat dan teman-temannya…..

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْقُدُّوسِ بْنُ بَكْرِ بْنِ خُنَيْسٍ حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ سُلَيْمٍ الْعَبْسِىُّ عَنْ بِلاَلِ بْنِ يَحْيَى الْعَبْسِىِّ عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ إِذَا مِتُّ فَلاَ تُؤْذِنُوا بِى أَحَدًا إِنِّى أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْيًا فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَى عَنِ النَّعْىِ. هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

…Hudzaifah bin al Yaman pernah berkata, “ Kalau aku mati maka janganlah kalian kabarkan kepada siapapun. Aku takut ini termasuk na’yu. Maka aku pernah mendengar Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang na’yu”……

Ini dari Musnad Ahmad

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ سُلَيْمٍ الْعَبْسِىُّ عَنْ بِلاَلٍ الْعَبْسِىِّ عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا مَاتَ لَهُ مَيِّتٌ قَالَ لاَ تُؤْذِنُوا بِهِ أَحَداً إِنِّى أَخَافُ أَنْ يَكُونَ نَعْياً إِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَى عَنِ النَّعْىِ

…Dari Hudzaifah bahwa apabila ada salah seorang yang mati, dia berkata, “Janganlah mengabarkan kematiannya kepada orang lain, aku takut hal itu termasuk na’yu. Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulallah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya,”…

Ini dari Shohih Bukhari

حدثنا عبد الله بن يوسف أخبرنا مالك عن ابن شهاب عن سعيد بن المسيب عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نعى النجاشي في اليوم الذي مات فيه وخرج بهم إلى المصلى فصف بهم وكبر عليه أربع تكبيرات

…..bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan kematian raja Najasyi pada hari kematiannya dan beliau keluar menuju musholla dan sholat (ghaib) mengimami orang-orang dan beliau sholat empat kali takbir…

حدثنا سليمان بن حرب حدثنا حماد بن زيد عن أيوب عن حميد بن هلال عن أنس بن مالك رضي الله عنه: أن النبي صلى الله عليه و سلم نعى جعفرا وزيدا قبل أن يجيء خبرهم وعيناه تذرفان

…Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kematian Ja’far an Zaid sebelum datang kabar mereka (dari para sahabat) dan air mata beliau menetes…

Sudah…

Dari kelompok hadits tadi ada dua hal yang seolah kontradiktif. Perlu langkah pendekatan, terserah mau pendekatan kesesuaian atau pendekatan konflik, mau tarfiq atau tarjih…. monggo silakan.

Dengan cara pendekatan yang manapun kita bakalan ngedapetin bahwa;

Na’yu itu bisa terlarang, bisa boleh.

Kapan dia jadi terlarang?

Na’yu jadi terlarang atau jadi haram bila menyerupai kebiasaan kaum jahiliyyah, macem teriak-teriak di depan pintu, di pasar, di atas mimbar atau seperti yang dilakukan oleh orang-orang sekarang, yakni pasang iklan gede sehalaman koran, atau di majalah atau radio, atau di internet dan….blog. Biasanya dilakukan untuk berbangga-bangga dan pamer. Pamer kalau anaknya banyak dan hartanya melimpah dan relasi luas dan dekat pejabat dan dan dan….

Kalau mau diperluas cakupannya, termasuk dilarang pula bisnis na’yu. Menyediakan ruang kosong di media untuk berita kematian ini. Mengambil upah dari perbuatan ini. Masukan nih buat para produsen koran dan media lain. Cari duit dengan cara lain yang halal deh…..masih banyak yang halal kok, ngapain ngotot cari yang haram…..idih..!!!

Kapan dia dibolehkan?

Sekedar kabar kematian saja. Gak lebih. Itu pun terbatas untuk orang-orang dekat, kerabat, teman atau yang sudah kenal atau yang memiliki kepentingan dengannya, seperti pihak-pihak yang ada urusan utang piutang, atau yang semacem itu. Selesai..

Atau ketika na’yu itu dilakukan agar jenazah ada yang ngurusi. Mulai dari memandikan, mengafani dan menshalatkan terus menguburkan. Yang ini malah jadi keharusan, wajibun….

Di kitab Nailul Authar, Asy-Syaukani berkata, “Kesimpulannya, mengumumkan berita kematian untuk memandikan, mengafani, menshalatkan, mengusung dan mengebumikan jenazahnya dikhususkan dari keumuman larangan tersebut. Sebab mengumumkan berita kematian kepada pihak yang mengurusi urusan jenazah ini merupakan perkara yang disepakati kebolehannya sejak zaman para Nabi sampai sekarang. Adapun jika lebih dari itu, maka ia termasuk dalam keumuman larangan tersebut.”

Wallahu a’lam.

sumber kutipan dari sini

[ad#ad-2]

MAAF..Dengan sangat menyesal kolom komen artikel ini saya tutup untuk menghindari hal² yg tidak di inginkan…jikalau ada pertanyaan tentang artikel ini, silahkan isi pada kontak form yg tersedia di page kontak. Terimakasih..

Share and Enjoy:
  • Print
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Google Bookmarks
  • Live
  • MSN Reporter
  • MySpace
  • RSS
  • Technorati
  • Twitter
Published by didin

4 Responses to “IBSN : Tentang na’yu (Berita Kematian)”

  1. Ata Says:

    Udah jadi ustad rupanya temenku satu ini..

    Smoga keluarga sehat ya..

    Kalo postingan seriur gini boleh senyum gak ya :roll:
    Keqnya enggak ya..


    senyum itu ibadah sob..apapun keadaannya harus tetap tersenyum..dan saling mengingatkan.
    trimakasih doanya sep, smoga septa dan keluarga juga sehat yah..amin..

  2. Rindu Says:

    Septa, open you mind, tulisan ini sekaligus untuk memperingati kamu yang TIDAK belum mau mendengar usulan orang lain, semoga Sassie memaafkan kamu dan ALLAH mengampuni kamu, sekali lagi saya mohon senyum sassie dihapus dari tulisan kamu Septa :(

    *tertunduk, menangis*

    SAYA KECEWA SEKALI DENGAN SEPTA :( SANGAT KECEWA !!

    Perempuan The Most Wanted


    Sabar yah mbak, kita mmg wajib saling mengingatkan tp harus dg kesabaran.. :smile:
    saling memaaf kan yuk….jgn ada dendam :smile:

  3. ok Says:

    ilmu baru ilmu baru… :)

    siapa bilang

    heuheu..ilmu harus di cari mbak cinta :smile:

  4. fitri Says:

    Gitu ya mas didien eh dik didien eh aa’ dyn eh ……
    (manggut-manggut…..) begitu ya sumbernya…….

    SASSIE KIRANA

    iya jeung kata sumbernya :mrgreen:

Blog Advertising - Advertise on blogs with SponsoredReviews.com logo ibsn 1 Blog Ads